Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

Tugas Seorang Pemimpin

Seakan tak lagi sebangsa
Seakan tak lagi sedarah
Seakan tak lagi saudara

Begitu banyak orang-orang di negeri ini yang mendambakan menjadi seorang pemimpin. Kenikmatan yang mereka sebut sebagai "surga dunia" tergadang begitu menggiurkan. Mobil mewah, rumah nyaman, pengawalan untuk rasa aman, ketenaran, bahkan penjaminan biaya hidup menjadi mimpi kalangan elit untuk menguasai dan semakin berkuasa. 
Tapi...
Di balik kenikmatan yang mereka sebut sebagai "surga dunia" terdapat tugas utama, terutama dan yang paling utama, yang bahkan tidak sempat terpikirkan bagi sang penguasa penikmat surga dunia. Menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya memimpin, yang meleburkan keinginan individualis menjadi keinginan universal, tidak mengenal lagi istilah ke-aku-an melainkan -mereka-, tidak ada lagi istilah di-layan-i tapi hanya me-layan-i, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, melainkan untuk kepentingan rakyat, dirinya bukan milik keluarga melainkan milik rakyat, dan masih begitu banyak pengorbanan seorang pemimpin...

Ketika itu, umur saya masih sangat muda, dapat dikatakan saya masih terlihat tidak terlalu pantas memimpin sebuah kota besar dari negara yang berumur baru belasa . Kota yang memiliki penduduk terpadat, tingakat kesejahteraan masyarakat terendah, pengangguran terbanyak, lapangan kerja kurang, hingga segala kebobrokan yang menggetarkan saya dan sempat membuat diri saya merasa pesimis. Namun, tidak ada alasan mundur untuk diri saya. Saya sudah terlanjur melangkah dan pantang untuk kembali pulang.

Di umur yang masih sangat muda, saya sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin suatu daerah. Namun kini saya harus meimpin sebuah kota besar dengan sejumlah permasalahan yang lebih besar lagi. Hari-hari pertama saya habiskan dengan mengelilingi seluk beluk kota ini. Tidakkah jantung kita berdebar-debar melihat pemuda-pemuda yang seharusnya tenaga produktif, setiap harinya hanya mondar-mandir mencari kesempatan dan lapangan pekerjaan. Tidakkah tersentuh rasa kemanusiaan kita melihat ribuan keluarga yang masih hidup berjejal-jejal dalam satu rumah yang sempit. Lebih menyedihkan lagi, mereka yang berada di bawah kondisi minim itu sudah tidak merasa hidupnya jauh di bawah standar kehidupan seorang manusia, karena sejak mereka lahir mereka telah berada dalam keadaan seperti ini. Bukan hanya permasalahan dari tingkat kesejahteraan masyarakat yang membelenggu kota ini, tetapi iklim politik yang juga didominasi oleh sikap curiga-mencurigai, serta kekosongan kepemimpinan daerah dan dualisme susunan perangkat pemerintahan yang berakibat menipisnya wibawa pemerintah turut juga mendominasi kesengsaraan kota besar ini. 

Sekejap saya merenung, berpikir perbaikan apa atau dari mana saya harus melangkah. Namun, dengan berbagai opin-opini publik yang semakin menyudutkan saya dan di satu sisi memaksa saya untuk mengambil tindakan. Akhirnya untuk melaksanakan pembaharuan dan modernisasi, saya melabrak sendi-sendi nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku di masyarkat. 

Saya memutuskan untuk membangun sekolah-sekolah, rumah sakit, pusat perkantoran dan industri, serta berbagai kebutuhan masyarkat lainnya yang seharusnya telah ada dan tersedia. Namun, saya memiliki hambatan yang besar yaitu "uang", yang saya perlukan untuk membiayai pelaksanan tersebut.

Uang ini tidak bisa saya dapatkan dari anggaran dan belum bisa juga diperoleh dari masyarakat yang masih kekurangan. Disinilah dengan mengambil "risiko tidak disenangi banyak orang" saya mengembangkan sumber dana dari pajak-pajak yang bersumber dari beberapa bentuk perjudian yang merajalela beroprasi secara ilegal di kota ini. Akhirnya, dari usaha perjudian ilegal pemerintah memutuskan menjadikan usaha tersebut legal dengan mengambil pajak yang begitu besar dari setiap usaha dan membangun kota ini. Langkah tersebut adalah langkah terkahirnya yang dapat ditempuh untuk mendorong pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Dari protes dan cercaan beberapa pihak, tanpa menyembunyikan asal muasal uang pembangunan kota. Saya selalu mengatakan bahwa ribuan sekolah yang terbangun, ribuan rumah sakit, ribuan tempat peribadatan, dan ribuan lapangan kerja yang terbuka, serta berbagai fasilitas lainnya diperoleh dari pajak-pajak yang dipungut dari aktifitas perjudian dan sejenisnya di kota ini. 

Akhirnya, dalam kurun waktu 10 tahun terkahir, kota yang dahulunya menunggu ajal kini laksana gadis yang sedang berdandan, telah tumbuh puluhan bangunan bertingkat tinggi, pemukiman, pemukiman rumah yang layak, jalanan-jalanan licin dengan ratusan ribu kendaraan mengkilap, pohon-pohon pelindung, taman-taman dan gerakan penghijauan dari masyarakat yang seolah-olah merupakan rambut dari sang gadis, serta investor-investor yang telah melirik kota ini sebagai usaha untuk membuka lapangan-lapangan kerja baru bagi pemuda-pemuda produktif kota. 

Pembangunan dan perkembangan kota ini mungkin menjadi polemik dalam masyarakat karena sikap saya untuk melanggar norma-norma dalam kehidupan, namun menjadi seorang pemimpin memang butuh risiko dan pengorbanan. Ada kalanya, harga diri serta nama baik harus saya korbankan untuk mengangkat harkat dan martabat orang banyak. Meninggalkan berbagai fasilitas mewah, untuk merasakan kepedihan dan kesederhanaan hidup masyarakat. Menentukan pilihan dan mengambil risiko dengan taruhan nyawa demi kemakmuran rakyat.


- penggalan kisa dari pidato perpisahan PJ. GUBERNUR KDKI ALI SADIKIN juli 1977- 

Jumat, 19 Juni 2015

Setitik Bahagia milik Perempuan Biasa

Berusaha mengais 
Menelaah lembar demi lembar kehidupan
Mencari setiap sudut kehidupan 
Demi mendapatkan setitik kebahagiaan 

Entah lah,...
Bagaimana rasanya menggambarkan ini semua ...
Kadang perempuan ini sangat kuat 
Bahkan lebih kuat dibandingkan karang 
Namun, ada kalanya perempuan ini akan lemah dan rapuh 
Bahkan lebih rapuh dari daun kering 

Bukan maksud hati untuk mengeluh 
Bukan maksud hati untuk tak menerima 
Bukan maksud hati untuk tak bersyukur 
Sungguh, DemiSangMaestro kehidupan, perempuan ini selalu percaya bahwa kebahagiaan itu akan selalu ada, tergantung bagaimana cara kita memandangnya...

Tapi sekali lagi, ini kehidupan nyata 
Bukan cerita dongeng yang selalu berakhir romantis dengan kalimat "hidup bahagia selamanya" 

Hal ini hanya ungkapan dari seorang perempuan yang hidup di dunia nyata, dengan cerita kehidupan yang tanpa di dramatisir sudah sangat sadar bahwa hidup ini nyatanya adalah drama 

Terkadang kehidupan terlalu sadis...
Sampai-sampai menyisakan trauma yang  selalu membuat perempuan ini tak tenang... 
Terkadang kehidupan terlalu manis ...
Sampai-sampai kenyisakan keadaan yang membuat perempuan ini lupa daratan...

Sekali lagi, ini bukanlah keluhan 
Hanya ungkapan kecil dari perempuan yang mencari setitik kebahagiaan miliknya yang direnggut oleh keadaan 

Mungkin hanya kebahagiaan sederhana yang perempuan ini cari 
Sedikit tawa contohnya. Perempuan ini hanya lupa kapan terakhir kali dia tertawa lepas ...
Atau sedikit waktu tanpa masalah. Perempuan ini hanya lupa kapan terakhir kali dirinya melangkah memulai hari tanpa penat... 
Atau mungkin sedikit masa bodoh. Perempuan ini hanya rindu sikapnya yang berbicara tanpa harus berpikir panjang... 


Walau hanya setitik, setidaknya setitik kebahagiaan itu dapat menerangi tarikan napas berat yang selalu menemani... 

Sekali lagi, ini bukanlah keluhan
Hanya ungkapan sederhana,...
Karena
Perempuan ini hanya perempuan biasa 

Selasa, 31 Maret 2015

Awal Cinta dari Sebutir Apel

WAKTU ITU ...
aku baru saja memasuki hari-hari sebagai mahasiswa baru. Semuanya terasa sempurna, teman baru yang menyenangkan dan suasana yang penuh tantangan, hingga penyakit tifus datang menyapaku. Aku terbaring di rumah sakit hampir sebulan lamanya. 
Teman-temanku bergantian menengok dan memberiku dukungan, tidak sedikit pula yang berusaha menarik perhatianku dengan membawa serangkaian bunga atau kembang gula. Tapi ada seorang pria pendiam yang membuatku penasaran, dia mengaku salah seorang dari teman sekelasku. Meski aku merasa pernah melihat wajahnya, aku tidak ingat dia berada di kelas ku.
Adrien, nama pria itu. Ia selalu membawakanku sebutir apel setiap hari, hanya sebuah Apel. Dia mengunjungiku dari hari pertama aku dirawat sampai akhirnya aku sembuh dan diizinkan pulang. Meski heran. aku mencoba menahan diri untuk bertanya mengapa dia hanya membawakanku sebutir apel setiap hari, bukan sebuket bunga, setidaknya sekeranjang apel, atau tidak sama sekali, itu tentu tidak akan lebih aneh dari pada sebutir apel. 
Saat aku kembali ke kampus, yang pertama kucari adalah Adrien. Aku selalu penasaran apakah dia benar teman sekelasku ?. Ternyata dia memang ada di sana, duduk di kursi paling pojok dan seharian hanya tidur di kelas. Aku tak menyapanya dan melakukan kegiatan belajarku seperti biasanya.Tapi saat pulang, aku kembali menemukan sebutir apel di lokerku.
Keesokan harinya aku membangunkan tidurnya dan mengajaknya makan siang bersama. Kali ini aku tidak bisa menahan keingintahuanku tentang sebutir apel yang selalu diberikannya kepadaku.
Aku begitu terkejut ketika mendengar awal kisah sebutir apel itu ternyata dimulai oleh diriku sendiri. Saat itu masa orientasi mahasiswa baru. Menurut Adrien, ia lupa membawa bekal karena terlambat bangun. Lalu seorang wanita bertubuh pendek, yaitu aku, menawarkan sebutir apel karena melihatnya tidak membawa bekal makan siang. 
Ia bilang hatinya merasa tersentuh karena wanita itu tidak menanyakan alasannya tidak membawa bekal, meski mungkin lebih karena wanita itu tidak perduli padanya. Tetapi unuk pertama kalinya bagi Adrien, seorang yang tidak peduli padanya justru menyelamatkannya pada hari itu.
Saat itu ia nyaris pingsan karena lapar dan tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa karena tidak ada orang yang dikenalnya. Sejak saat itu, ia mengaku sangat menyukai buah apel. Sebutir apel yang ia berikan setiap hai merupakan balasan kebaikanku dulu. 
Ia mengandaikan buah apel sepotong cinta, ia berikan sebutir setiap hari dan akan selalu sama. Meski mungkin dia tidak menawarkan cinta yang berlebihan dengan sebuket mawar atau sekotak kembang gula, hanya sebutir apel sederhana, tapi baginya cintanya padaku tidak akan pernah berubah. Dia tidak mencoba menarik perhatianku dengan sesuatu yang wah, tapi hanya menawarkan sepotong cinta yang setia, cinta yang sederhana. 
Aku mungkin tidak begitu percaya seorang Adrien yang antisosial bisa berpikir tentang cinta seperti sebuah apel, tetapi dalam kenyataan hidup hal itu memang terjadi. Kebaikan yang kita sadari bisa menggugah perasaan seseorang sampai ia rela memberikan cintanya dengan tulus.
Jadi, buat kamu yang belum menemukan cinta, mungkin di suatu tempat kebaikan yang tidak kamu sadari bisa membuat orang jatuh cinta. Kamu tidak perlu menarik perhatian dengan memberikan segala macam barang karena cinta itu adalah hal yang sederhana, tawarkan cinta seperti apa adanya, meski itu hanya sepotong saja.

 
Sumber : (Bukan Untuk Dibaca -The Most Inspiring Story- by : Deassy M. Destiani)


Minggu, 15 Februari 2015

Mungkin diriku sedang MELANKOLIS

Hari ini hujan
Suasananya dingin menusuk
Semakin lama ku terpaku di tempat ini hingga sepertinya hatiku pun ingin ikut membeku
Apa lagi dirimu sedang jauh, tak berada di sini, dengan ku, seperti biasanya

Siang itu, suasana kampus sepertinya sangat tak dapat tergambarkan. Setelah kurang lebih satu minggu diriku menghilang dari kehidupan kampus, sedikit menenangkan diri mungkin adalah ungkapan yang paling tepat. Begitu banyak kejadian yang terjadi dalam satu minggu sebelumnya, yang semakin mengajarkan ku kalau hidup itu tak selamanya berjudul "INDAH" kadang juga harus ada bagian yang bernamakan "SEDIH" atau mungkin "BERPISAH".

Tidak begitu banyak mahasiswa yang berada di kampus hari ini, bukan karena hujan yang mengguyur kota dari semalam, tapi karena ini adalah minggu-minggu liburan semester. Lalu apa yang ku lakukan ? Yah, sedikit terpaksa sebenarnya, diriku harus rela tanpa semangat menginjakkan kaki di kampus hari ini, bukan malas karena hujan, tapi karena tak ada dirimu. Kampus yang dipenuhi dengan mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir nyatanya semakin membuat kepenatan dikepalaku, bukan karena diriku iri melihat mereka, bahkan posisi ku juga dapat dikatakan sebagai mahasiswa tingkat akhir, mengurus berbagai tugas yang dinamakan skripsi. Tapi, ada sesuatu kenangan yang terus saja terputar dalam kepala ku, entah lah apa ini dirasakan semua orang atau hanya diri ku yang terlalu mendramatisir suasana.

Diriku hanya dapat terduduk diam, memandangi basahnya tanah yang terkena air hujan. Memandangi setiap labirin-labirin kampus mengingat kembali segala kejadian yang telah terjadi, setiap langkah kaki yang telah melewati labirin ini. Memandangi setiap ruangan yang pernah menggoreskan cerita, seakan setiap sudut tempat ini kembali bercerita. Mengenang kembali setiap kejadian
Kuliah, organisasi, bergosip, sekedar bertegur sapa, pusing karen tugas, bahkan jatuh cinta dengan teman angkatan...
Semuanya terasa semakin melankolis, ketika kejadian itu berhenti saat diriku mulai mengingat kembali bagaimana kita berkenalan. Bagaimana kita merasakan pusing bersama kerena urusan organisasi, bagaimana kita saling bercerita hingga malam menyelimuti kampus dari urusan kuliah, orang lain, bahkan urusan kita berdua.

Entah lah, bagaimana diriku harus menyikapi. Ditengah tugas akhir yang harus ku selesaikan, tapi ada sebagian diriku merasa berat menerima bahwa perjalanan indah di tempat ini akan terselesaikan, dan diriku akan melangkah ke perjalanan selanjutnya...

Terkhusus untuk kisah kita, tak ada kata usai hanya saja mungkin suasananya akan berbeda. Tetapi tetap dengan cinta, kasih, dan sayang yang sama.

MUNGKIN DIRIKU SEDANG MELANKOLIS :)

Selasa, 09 Desember 2014

Poligami di antara Kebebasan, Cinta, dan Ketertindasan


"Kita menerima kebenaran mutlak sebagai keniscayaan. Karena itu, kita percaya keterbukaan pemikiran. Kita menghargai pluralitas. Kita akan perjuangkan kebenaran mutlak dengan keterbukaan dan pluralitas." RausyanFikr Institute


"Isu poligami dan hak-hak perempuan tentu memancing penelitian yang mendalam dan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang, tentunya tanpa prasangka dan curiga serta tidak memberlakukan norma-norma masa kini pada peristiwa yang terjadi 1400 tahun yang lalu dalam konteks budaya yang berbeda secara total"- Dr. Ali Syari'ati

Sejarah telah memodifikasi arti-arit dari banyak isu manusia. Takdir yang dihadapi oleh isu sosial dan moral persis sama dengan transformasi kata-kata yang alami. Esensi, makna, dan bahkan pengucapan, dari perubahan kata-kata, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu waktu dan lingkungan. Kata POLIGAMI merupakan terjemahan dari bahasa persia yang aktual dan tepat "ta'dod-e-zowjaj". Pologami berdasarkan Webster Dictionary sebagi pernikahan yang didalamnya seorang pasangan dari salah satu jenis boleh memiliki lebih dari satu pasangan dalam waktu yang sama. Sebaliknya islam sebenarnya hanya mengizinkan POLIGINI yang terbatas yang didefinisikan dalam kamus yang sama sebagai keadaan atau praktik memiliki lebih dari satu istri atau pasangan perempuan pada saat yang sama. Sedangkan poliandri adalah keadaan atau praktik memiliki lebih dari satu suami atau teman laki-laki pada waktu yang sama. Saharusnya diperhatikan bahwa plogini dan poliandri adalah bagian dari poligami. Namun, islam hanya membolehkan yang pertama bukan yang kedua. 

Adanya stau realitas yang menjadi sutu sejarah fenomenal dan terjadi sekitar 1400 tahun lalu yaitu, isu poligami dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Banyak tulisan-tulisan yang mencoba menggambarkan kehidupan sang nabi, namun mereka menggambarkannya seakan-akan sang nabi adalah seorang don juan yang secara alami tergambarkan sebagai seseorang yang masa mudanya dipenuhi dengan dorongan nafsu seksual. Namun, sejarah yang mencoba menggambarkan kehidupan Muhammad dengan istrinya telah gagal menemukan bentuk nafsu apapun dalam kehidupan sang nabi.
Hingga usia 25 tahun Muhammad tidak diliputi apapun kecuali kemiskinan, keyatiman, penderitaan, dan tugas-tugas dakwah. Istri pertama yang dinikahi di puncak masa mudanya adalah Khadijah. Dia menghabiskan usia muda dan masa dewasanya hanya dengan khadijah dan dia tidak pernah menikahi istri lain selain khadijah dalam 28 tahun usia perkawinan mereka. Lebih penting lagi, pada saat itu dia belum dibebani dengan tugas monumental kenabian sehingga tidak ada apapun yang mencegahnya dari pengumbaran gairah seksualnya. Namun, walaupun dengan keadaan ini semua. Muhammad tidak mencari kenikmatan ekstra. Benar-benar menakjubkan bahwa putra Abdullah seorang pemuda biasa adalah seorang laki-laki yang menghabiskan waktu utamanya dengan seorang janda yang berusia 45 tahun hingga akhir hayatnya. Mengapakah, kalau begitu para orientalis mengklaim, bahwa ketika dia hijrah ke Madinah di akhir usia dewasanya sekitar 53 tahun, terbebani dengan misi ilahiah dan khususnya posisi sosial dan moral yang menjadi contoh bagi semua orang dalam keimanan, tiba-tiba nyala hawa nafsu menjeratnya dan dia terkuasai oleh gairah dan nafsu syahwatnya ??? 

Yang terlepas dari perhatian para orientalis barat adalah yang menarik nafsu syahwat laki-laki bukanlah jumlah perempuannya, malainkan laki-laki buaya darat memburu perempuan cantik yang centil. Bukanlah seorang janda, perempuan tua renta yang memiliki anakn, atau perempuan yang tidak meiliki wajah terlalu cantik seperti anak dari Umar. Lalu mengapa mereka menjadi istri-istri Muhammad SAW ????? 

AISYAH
Adalah perempuan pertama yang dilahirkan di zaman islam dan merupakan generasi muslim pertama.  Dengan pernikahan ini, Muhammad dan Abu Bakar menjadi saudara. Orang badui  memberikan kesaksian bahwa ikatan keluarga pada saat itu adalah ikatan yang paling solid yang akan menghubungkan dua manusia secara bersamaan. Dengan kata lain, pernikahan beliau dengan satu-satunya perempuan mudan dan cantik diantara istri-istrinya atas dasar kepentingan sosial dan politis.

SAUDAH
Saudah binti Zama'ih adalah istri dari anak laki-laki pamannya. Saudah termasuk orang pertama yang memeluk agama Muhammad di awal-awal islam. Suaminya wafat dan ia ditinggal tanpa tunjangan apapun. Pada masa itu, sebagai seorang janda tidak ada apaun kecuali kehinaan. Muhammad memutuskan menikahi perempuan tangguh dan suci ini dan membawanya kedalam pemeliharaannya.

RAMLAH
Ramlah adalah anak perempuan Abu Sufyan (Orang yang membenci Muhammad). Pada puncak permusuhan mereka, Muhammad melamar anaknya. Keputusan ini sangat berpengaruh besar pada sang Nabi dan Islam.


ZAINAB 
Zainab binti Khuzaimah adalah istri Ubaidillah bin Harits yang syahid selama perang Badar. Pada saat itu dia adalah orang sederhana yang tua dan renta. Muhammad menikahi perempuan yang tak berdaya ini pada hari-hari terkahirnya. Karena beliau tidak menginginkan janda seorang syahid agung melepaskan napas terkahirnya tanpa perlindungan.


Hal-hal serupalah yang menjadi dasar pertimbangan Nabi Muhammad SAW yang juga menikahi HINDUN, RAMLAH, JUWARIYAH, SHAFIYAH, MAYMUNAH, HAFSAH. 

karena sesungguhnya cinta Muhammad hanyalah untuk Allah SWT. 


Sumber: 
Perempuan-Perempuan di Sisi Muhammad SAW. 2012. Ali Syari'ati. Yogyakarta:RausyanFikr.

Selasa, 18 November 2014

Pendidik tanpa Gelar

Cahaya ruangan penuh buku
Semakin lama semakin menyilaukan
Cahaya terpancar begitu menusuk
Disaat mata mulai digenangi air

Hari ini siang, pukul 12.55 waktu kampus
Jam istirahat menandakan ruangaan ini akan penuh sesak oleh segerombolan mahasiswa yang sekedar ingin mencari buku atau hanya menghindar dari gerahnya udara panas yang melumatkan kulit. Tapi itu bukan diriku, tubuhku telah terpaku disini sejak sejam yang lalu. Setiba di kampus, kuputuskan untuk langsung menuju perpustakaan, mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen lalu menuliskan apapun yang ingin kutuliskan.

Ditengah kekosongan aktifitas, diriku juga sibuk mengamati orang-orang yang sedang berlalu lalang. Hingga tiba-tiba aku tersadar, ternyata yang memenuhi ruangan ini bukan hanya mahasiswa-mahasiswa muda dengan umur sekitaran 18-25 tahun. Tapi mereka-mereka juga yang telah seumuran dengan orang tuaku di kampung sana. Sekejap aku merindukan mereka, sambil asik memandangi raut-raut wajah mereka yang sedang sibuk membaca koran atau disertasi-disertasi, sekelumit wajah orang tuaku juga terpancar. Rindu itu tiba-tiba membungkusku ditengah keramaian perpustakaan kampus. Wajah-wajah serius mereka, dengan sedikit berbicara sambil terus membaca. Dengan kacamata yang telah melorot, rambut yang telah memutih, tapi mereka masih semangat untuk melanjutkan sekolah dan mendapatkan gelar yang juga menandakan strata sosial mereka,
Betapa beruntungnya mereka, ditengah umur yang telah lanjut, mereka masih mendapatkan indahnya berpengetahuan dengan biaya yang tentunya tidak sedikit yang harus dikeluarkan.

Wajah antusias mereka membaca koran-koran pagi ini mengingatkanku dengan wajah serius ayah pada saat membaca koran atau hanya sekedar mengisi Teka Teki Silang yang dia anggap sedikitnya dapat menambah pengetahuan. Diriku jelas mengetahui kemauan Ayah, beliau juga pastinya ingin melanjutkan sekolah hingga mendapat gelar setinggi-tingginya layaknya mahasiswa-mahasiswa pascasarjana ini. Ayah juga pastinya ingin memiliki pendidikan yang tinggi sehingga dapat membanggakan anak-anaknya. Tapi, mungkin nasib ayah tidak seberuntung mereka. Keterbatasan ekonomi memaksa ayah untuk merelakan dirinya berhenti menuntut ilmu pendidikan formal dan menyerahkan kesempatan itu kepada anak-anaknya.
Ayah mungkin tidak memiliki gelar yang panjang, yang berjejer didepan ataupun belakang nama ayah layaknya mereka. Tapi, diriku selalu yakin ilmu keikhlasan membimbing anak dimiliki ayah lebih dari mereka.

Ayahku mungkin biasa saja
Bukan orang bergelar
Bukan orang penting yang terpandang
Bukan orang tinggi yang dihormati
Tapi ayahku akan berhasil mendidik anaknya menjadi orang yang bergelar, terpandang, dan yang dihormati.

Suasana kampus siang ini
Diriku merindukanmu Ayah :)

Sabtu, 15 November 2014

Cinta dan Rasa

Ketika Rasa tidak pernah rela untuk meninggalkan Cinta

Rasa yang bahkan mengorbankan segala kepentingannya demi Cinta
Tidak ada lagi waktu luang, tidak ada lagi urusan pribadi, tidak ada lagi kemauan sendiri
Semua waktu hanya untuk Cinta, semua urusan hanya urusan Cinta, semua kemauan hanya kemauan Cinta. Bahkan Rasa rela mengorbankan hidupnya demi Cinta. Semua untuk Cinta, hanya Cinta yang dia inginkan, Cinta hanya milik Rasa...

Banyak yang telah menegur, banyak yang heran dengan pengorbanan Rasa untuk Cinta
Begitu tulus Rasa mencintai Cinta, tak pernah sekalipun dia membiarkan Cinta tergores bahkan oleh angin...

Lain halnya dengan Cinta
yang terlanjur terlena dengan ketulusan Rasa
Cinta terlalu termanjakan dengan dekapan hangat Rasa yang rela mengorbankan apapun demi dirinya. 
Cinta mencintai Rasa, sama seperti Rasa mencintai Cinta. Tapi Cinta sudah terlanjur terbiasa dengan kemanjaan dan pengorbanan Rasa yang begitu luar biasa.
 
Hingga akhirnya...
Rasa mulai peka terhadap perasaannya, Rasa mulai mempertanyakan perasaan Cinta kepadanya. Tuluskah Cinta mencintai Rasa ?. Bukan salah Rasa menganggap perasaannya lebih besar dibandingkan perasaan Cinta kepadanya. Cinta dan Rasa memiliki perasaan yang sama, namun cara mereka menunjukkan cinta sangat berbeda. Cinta dengan keegoisan cintanya dan Rasa dengan ketulusan rasanya.
 
Dan kini,...
Rasa mulai lelah
Rasa mulai menganggap cara mengungkapkan cintanyalah yang paling tepat. Cinta mulai kebingungan, disaat Rasa mulai menuntutnya untuk mengungkapkan cinta layaknya Rasa.
Cinta akhirnya ingin mencoba, perlahan demi perlahan meninggalkan keegoisannya. Perlahan demi perlahan mengorbankan waktunya. Pelahan demi perlahan meninggalkan urusannya. Semua itu hanya untuk Rasa. Perasaan, waktu, urusan semua atas nama Rasa. 
 
Namun, disaat semuanya telah berjalan...
Cinta mulai merindukan kemanjaan dari Rasa, waktu dari Rasa, bahkan perhatian dari Rasa. 
Disaat yang bersamaan pula...
Rasa mulai merindukan mengorbankan waktu untuk Cinta, memanjakan Cinta, mendekap Cinta. 
Tapi sayang....
Cinta dan Rasa tak berani mengungkapkan rindu
mereka takut melukai, keduanya saling berkorban dan bahkan tak ingin hembusan anginpun menggores pasangannya.

Biarlah Cinta menyimpan rindu untuk Rasa
Biarlah Rasa menikmati rindu untuk Cinta

Sabtu, 08 November 2014

Mahasiswa di pagi hari. Tanpa sarapan dengan setumpuk harapan.

Entah sudah berapa banyak kisah tentang dirimu ku tuliskan
aku tidak pernah perduli jikalau orang lain merasa muak dengan sosokmu yang terus saja kukisahkan dalam blog ku ini
diriku juga tidak akan meminta maaf kepadamu karena terus mengisahkan sosokmu tanpa sekalipun meminta izin denganmu
entah mengapa, tulangku terasa remuk, diriku seakan kaku ketika berhenti berkisah tentangmu
bagiku, engkau seperti jendela dunia. Memberiku begitu banyak inspirasi.

Pagi hari, di sudut kampus merah...

Disaat suhu udara di termometer gantungan kunci ranselku menunjukkan angka 30 derajat, dengan napas sesengukan mengejar kuliah pagi. Langkah yang semakin ku perlebar, diiringi oleh gemerincing gantungan kunci ranselku yang saling bertabrakan. Sambil komat kamit mulutku menghapalkan materi semalaman suntuk, ditambah dengan hatiku yang sibuk saja mengumpat diriku sendiri yang telat bangun diakibatkan meghapal materi yang belum jelas akan ada pada soal mid semester atau tidak. Terus saja diriku berkhayal, mengharapkan sekumpulan jawaban tiba-tiba terjatuh dari langit, ataukah lembar jawabanku tiba-tiba saja terisi penuh dengan jawaban sempurna. Sungguh, khayalan yang sangat tidak berkualitas bagi mahasiswa di pagi hari yang sedang terburu-buru ingin menghadapi mid semester. 

Tergopoh-gopoh ku susuri langkahku berlari melewati parkiran kampus, dengan ukuran ransel yang hampir melebihi besar badanku sedikit menyulitkan tubuh kurusku ini untuk segera berlari, ditambah lagi tidak ada secuil rotipun atau sejenisnya yang masuk walau sekedar menambah energiku pagi ini. Mahasiswa seperti biasanya, tanpa sarapan dengan setumpuk harapan...

Semakin dekat dengan labirin kelas, semakin kupaksakan tubuh kurusku berlari membawa ransel. Ingin rasanya diriku tiba-tiba dapat terbang dan sesegera mungkin mendarat pada barisan bangku kelas dengan posisi paling strategis untuk melaksanakan mid semester. "rata-rata mahasiswa mengatakan posisi bangku pada saat ujian mempengaruhi hasil ujian nantinya". Pluk...Pluk..Pluk... tinnggal beberapa langkah lagi diriku sampai di ruang kelas., Tapi, entah mengapa Tuhan memang sangat mencintaiku. Sosok itu tiba-tiba saja muncul dengan santainya di hadapanku.

Tubuh tinggi itu, dengan kulit sawo matang, aroma parfum yang sangat ku kenali, dipadukan dengan snakers andalan yang sering dia kenakan, kemeja santai khas mahasiswa + jas almamater merah yang membuatnya semakin tampak mempesona. Aktifis kampus yang selalu ku kagumi. Pemilik pemikiran-pemikiran  kritis, yang sangat membenci nepotisme-nepotisme sampah kampus, yang selalu mengkritik tajam sikap-sikap Hedonis Pragmatis Akut orang-orang yang mengaku sebagai mahasiswa. Sosok ini, yang selalu membuatku terperangah setiap dirinya berbicara pada forum-forum kemahasiswaan. Dengan ekspresi datar tanpa senyuman, namun bermakna ketegasan dan penuh kewibawaan.

Sosok almamater merah itu cukup membuat langkahku terhenti bahkan membatu sejenak. Seperti penyemangat pagi, tak masalah tak sarapan, namun Tuhan memberiku energi lebih dengan melihat dirinya. Dapat kupastikan, mid semester nanti akan lancar setelah melihat aktifis andalan. Sosok yang telah dua tahun lebih membuatku terkagum-kagum. Namu, bukan karena dirinya memiliki ketenaran dan posisi sangat penting di organisasi kampus. Diriku mengagumi pemikirannya, untuk tampilan dan posisinya dalam organisasi kemahasiswaan itu bonus bagiku. 

Halo aktifis kampus Andalan. Tulisan ini untuk dirimu, jangan pernah berjuang untuk dikenang, tapi berjuanglah untuk menang.

Jumat, 03 Oktober 2014

1 hari. 1 sosok. 1 malam

Udara panas yang menusuk, riuh rendah suara teriakan dan gelakan tawa yang seakan menyindir...
Diantara barisan orang yang sedang sibuk memikirkan "masa depan" kata mereka
Diantara barisan bilik-bilik yang membatasi segala jenis aktifitas

Diriku melangkah lunglai. Malas rasanya ketika matahari telah menggerogoti jendela kamar dan memaksaku untuk membuka mata. Kuharap kejadian semalam hanyalah mimpi buruk. Namun, kenyataan memang harus tetap kuhadapi. Segera setelah mata ini membuka, kumenggapai HP yang sejak semalam berada disampingku, tidak seperti biasanya. Hp itu kuletakkan disampingku dengan kondisi tetap meyala, entah mungkin diriku hanya terlelap 5 menit atau dapat dikatakan tidak terlelap sama sekali. Kembali ku tekan nomor yang sejak kemarin terus ku hubungi, jawaban yang sama, suara operator yang terdengar datar dan begitu memuakkan. Akhirnya telah dapat kupastikan, hari ini akan kulalui tanpa senyum, tanpa tawa, dan tanpa dirimu. Dan ini benar-benar bukan mimpi. 

Terseret-seret kaki ini melangkah. Memasuki area parkir kampus yang penuh sesak. Keadaan yang kacau balau, satu dua orang menegur dengan senyuman yang mereka berikan, entah senyuman itu ikhlas atau hanya basa basi mereka saja. Tapi maaf, tak selamanya senyuman dibalas dengan senyuman. Bibir ini seakan enggan merubah posisi, hanya terkatup datar tanpa ekspresi.

Langkahku semakin lambat ketika memasuki koridor-koridor bilik, mataku hanya tertuju kepada 1 bilik, dan mencari 1 sosok yang sajak 1 malam membuatku tidak bisa memejamkan mata walau hanya 1 detik. 

Namun sayang, harapan itu benar-benar musnah...
Sosok itu tak ada, seseorang yang biasanya mengantarku tertidur, menjemputku di awal pagi, menyambutku dengan senyuman di bilik kampus, mendukung dengan semangat diawal perkuliahan, memberikan perlindungan disepanjang hari, membuatku merasa aman hingga kembali terlelap.
Tapi hari ini, seakan semuanya telah menghilang, sekana hari ini adalah kiamat
Tak dapat lagi kulukiskan,..

Menghilangnya sosok itu
Seakan telah memangkas seluruh waktuku dan kini aku mengataka : AKU BERHENTI MELALUI HARI TANPA DIRIMU. 


Minggu, 27 Juli 2014

Ruang Rindu



Kamu lihat bintang malam ini ?
Cantik yah…
Bersinar terang, seterang rinduku kepadamu
Tenang saja, ini bukan gombalan. Mungkin kata-katanya terlalu puitis ataupun terkesan norak, tapi sungguh itu ungkapan dari hati.

Sudah beberapa hari, tugas kampus memaksaku untuk sekejap menghilang dari kehidupan kota yang penat dan membawaku ke alam pedesaan yang sejuk dan terbebas dari polusi. Tapi, itu artinya diriku juga harus sejenak berada di ruang yang sedikit jauh darimu. Yah “RUANG” kataku bukan “JARAK”. Karena kita sudah tak berjarak lagi. Tidak ku pungkiri, ruang yang sedikit merenggang ini membuatkan seakan kekurangan oksigen. Membuatkun mabuk dengan rindu kepadamu yang menjadi-jadi. Ingin rasanya kuberhentikan waktu atau sekedar meminjam pintu ajaib doraemon untuk sesegeramungkin ketempatmu dan melihat wajahmu walau hanya sekilas. 

Malam itu, ketika bintang sedang cantik-cantiknya, ketika deadline tugas kampus ini semakin menjadi-jadi jangankan untuk mengingat istirahat, tanggal pada hari itupun telah terlupakan olehku. Diriku seakan tenggelam kepada ruang rindu dan deadline tugas yang semakin mencekik.
Seperti biasanya, ketika malam telah larut. Hanya disaat itu pula kita dapat sedikit bercerita melepas rindu melalui suara. Meskipun sinyal HP sebenarnya sangat tidak mendukung, setidaknya suara helaan napasmu masih dapat terdengarkan. Tidak ada kecurigaan sedikitpun kepadamu, dinginnya malam selalu menemaniku mendengarkan suaramu yang selalu terindukan.

“aku rindu padamu” ungkapan itu terlontar seketika dari bibirku
“sabar saja, kita akan bertemu” jawabmu santai
“hmmmmm…” hembusan napas sedikit sebal ku hembuskan, seketika diriku berpikir bahwa kau terlalu gengsi untuk mengungkapkan rindu. 

Beberapa menit kemudian, dirimu yang biasanya menemaniku bercerita hingga aku terlelap tidur kini mengakhiri pembicaraan kita yang selalu ku nantikan.
Diriku hanya terbengong-bengong, entah apa yang dapat kuperbuat dipelosok desa seperti ini ketika rindu telah sangat menusuk. Ditengah kegelisahaanku, berharap akan ada kabar lagi darimu, ketika waktu telah menunjukkan pergantian hari. Terdengar ada yang memanggil namaku dari luar kamar. Namun, karena perasaanku sedang tidak menentu, kuputuskan mengabaikan panggilan itu dan tetap berada di kamar.

Namun tiba-tiba, sosok dirimu muncul dari balik pintu, membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin cantik yang bersinar terang diatasnya. Entah bagaimana ekspresiku kala itu, aku bahkan serasa sedang bermimpi, orang yang selama beberapa hari ini terus terindukan, orang yang semenit yang lalu membuatkan gelisah karena ingin lebih lama dengannya walau hanya mendengar suaranya. Kini, bukan hanya suaranya, bahkan sosoknyapun telah dapat kulihat utuh. Berdiri tampan dihadapanku. 

Entahlah, diriku seakan lupa ingatan bahwa malam ini 18 Juli. Hari dimana aku dilahirkan dan kamu orang yang terindukan datang dengan menempuh jarak ratusan kilometer dengan menempuh kurang lebih 4 jam perjalanan dan dengan wajah yang telah dapat kutebak dirimu tidak tidur selama dua hari dua malam karena memikirkan rencana ini. Dirimu memang luar biasa, selalu saja memberiku kejutan-kejutan istimewa yang membuatku ingin mati saking bahagianya. Dirimu memang gila, selalu saja memiliki ide-ide spontan yang membuatku menjadi perempuan paling beruntung karena telah memilikimu. 

18 juli, tak ada lagi permintaan yang kupinta dari Tuhan. Hidupku telah sempurna dengan memilikimu semakin menyempurnakan hidupku.

18 Juli
Tuhan telah memberikanku hadiah paling berharga
Memiliki dirimu, memiliki hatimu, memiliki hidupmu di hidupku

Kamis, 26 Juni 2014

PENGGALAN KISAH



Cinta kita dilahirkan dengan penggalan-penggalan kisah istimewa. Penuh tawa, penuh cerita, penuh kebahagiaan bahkan penuh air mata dan helaan napas dalam. Cerita kita ikut mengiringi perjalanan kehidupan kita, dari yang bukan siapa-siapa, hingga menjadi sedikit bahan perhatian. Dari kisah kita yang tidak diminati orang lain untuk mereka ketahui hingga kini setiap orang bahkan ingin mengetahui inci demi inci penggalan kisah kita. 

Tidak ada yang dapat melukiskan kebahagiaanku, memilikimu dengan begitu sederhana namun kau selalu memperlakukannku dengan begitu istimewa. Meskipun tekadang, sikap-sikap egoisku menelusuk tajam. Diriku begitu pasif mengekspresikan cinta…..

Sering ku menghukum sendiri diriku yang begitu bodoh, saat kembali kudengarkan pertanyaan-pertanyaanmu yang sesungguhnya sangat menyayat ....                              
                         
“masihkah kau mencintaiku ?”
“masihkah kau mengingatku ?”
“rindukah dirimu terhadapku ?”
Saat itu ingin rasanya ku memaki keadaan. Meneriakkan kepada dunia bahwa hanya sosok dirimulah yang selalu mengisi benakku….

Disaat kau bertanya
“masihkah kau mencintaiku ?”
Bahkan salah satu caraku mencintai Tuhan dengan mencintai dirimu sebagai ciptaan-Nya. Bahkan cintaku kepada Tuhan adalah dasar aku mencintaimu

Disaat kau bertanya
“masihkah kau mengingatku ?”
Bahkan setiap detik perjalanan waktuku, setiap inci Shalawatku, setiap kata dalam do’aku selalu kusebut namamu

Disaat kau bertanya
“rindukah dirimu terhadapku ?”
Sayang……
Rindu yang terkatakan mungkin masih dapat ku ekspresikan, tapi rindu padamu tak dapat lagi kusiratkan. Setiap nokhta-nokhta hidupku, setiap aliran darah di nadiku, aku merindukanmu, hingga terkadang rindu itu membekukan benakku,membekukan nadiku, membekukan hariku, membekukan hidupku hingga tak dapat lagi ku ekspresikan rindu itu.

Cinta
Rindu
Kenangan
Adalah bunga-bunga indah dalam hidup
karena Cinta itu memiliki banyak rasa 

Sabtu, 29 Maret 2014

Cerita Sudut Bandara



Bandar udara internasional Adisutjipto, Yogyakarta. Tempat yang menjadi saksi untuk pertama kalinya semua terkatakan dan tempat yang menjadi saksi untuk pertama kalinya semua terkenang dengan begitu menyayat.
Petang hari itu, pesawat yang membawaku akhirnya mendarat di tempat ini, terpampang tulisan Bandara Internasional Adisutjipto, Yogyakarta. Tersengal, detak jantungku seakan berlari. Berat rasanya kuhirup udara jogja yang begitu menusuk, bukan karena polusi udara, tapi karena begitu dalamnya kenangan yang terjadi di tempat ini. 
November 2012
Ketika suasana bandara disesaki dengan kesibukan keberangkatan dan kedatangan subuh . disaat nyawa ini masih melayang-layang karena tidak sempat walau hanya memejamkan mata karena ketakutan ketinggalan pesawat. Dirimu yang juga sedang menahan kantuk yang mendera, dengan mata yang redup, ditengah keramaian bandara, suaramu yang berat terdengar memanggil namaku.
Sedikit melirik, dirimu menarikku menyingkir sedikit dari keramaian orang-orang yang kelihatannya begitu terburu-buru.
Akhirnya, kita berdiri beruda, disalah satu sudut bandara. Dirimu terlihat gugup, sedikit kikuk diriku menerka-nerka apa yang kira-kira akan kau katakan. Akhirnya, tanpa basa basi, meskipun sedikit terbata-bata kata itu keluar dari bibirmu yang sangat jarang menyunggingkan senyum :

“aku menyayangimu”

Kaget, salah tingkah, entah apa yang harus kulakukan saat itu, entah apa yang harus ku katakan. Sangat ingin, saat itu aku beteriak “aku juga menyayangimu”. Tapi, rasa takutku nyatanya begitu besar. Rasa trauma yang kualami nyatanya belum terhapuskan. Takut, sangat takut ketika kita bersama, maka diriku akan kembali kehilangan orang yang kusayangi. Saat itu, diriku hanya berpikir lebih baik diriku tak pernah sama sekali memilikimu agar diriku tak akan pernah kehilanganmu. Karena sungguh, membayangkan untuk kehilanganmu saja diriku tak akan pernah sanggup.
Hanya berselang beberapa detik. Setelah pernyataanmu terlontar, entah mengapa bibirku secara reflex mengeluakan pernyataan yang membuat ku kini hanya dapat mengenang bayanganmu yang berdiri di sudut badara ini.
“ku harap kau bersabar menungguku”

Entah apa alasanku saat itu menyuruhmu menunggu. Entah apa yang diriku pinta untuk kau tunggu, mungkin ke-egoisanku….
kini, februari 2013
ditempat ini aku kembali, diriku hanya dapat menatap kosong sudut bandara itu, membayangkan sosokmu berdiri di hadapanku, membayangkan wajahmu yang begitu serius dengan kantuk yang tertahankan mengungkapkan sayang kepadaku.
Kini, bahkan dirimu masih menungguku, menunggu ke-egoisanku, bahkan kau terlalu sabar untuk masih terus menunggu dan mengenangku, di saat diriku justru baru menyadari kalau untuk pertama kalinya diriku mengenangmu dan untuk pertama kalinya diriku menyadari bahwa diriku benar-benar menyayangimu.