Kamis, 26 Juni 2014

PENGGALAN KISAH



Cinta kita dilahirkan dengan penggalan-penggalan kisah istimewa. Penuh tawa, penuh cerita, penuh kebahagiaan bahkan penuh air mata dan helaan napas dalam. Cerita kita ikut mengiringi perjalanan kehidupan kita, dari yang bukan siapa-siapa, hingga menjadi sedikit bahan perhatian. Dari kisah kita yang tidak diminati orang lain untuk mereka ketahui hingga kini setiap orang bahkan ingin mengetahui inci demi inci penggalan kisah kita. 

Tidak ada yang dapat melukiskan kebahagiaanku, memilikimu dengan begitu sederhana namun kau selalu memperlakukannku dengan begitu istimewa. Meskipun tekadang, sikap-sikap egoisku menelusuk tajam. Diriku begitu pasif mengekspresikan cinta…..

Sering ku menghukum sendiri diriku yang begitu bodoh, saat kembali kudengarkan pertanyaan-pertanyaanmu yang sesungguhnya sangat menyayat ....                              
                         
“masihkah kau mencintaiku ?”
“masihkah kau mengingatku ?”
“rindukah dirimu terhadapku ?”
Saat itu ingin rasanya ku memaki keadaan. Meneriakkan kepada dunia bahwa hanya sosok dirimulah yang selalu mengisi benakku….

Disaat kau bertanya
“masihkah kau mencintaiku ?”
Bahkan salah satu caraku mencintai Tuhan dengan mencintai dirimu sebagai ciptaan-Nya. Bahkan cintaku kepada Tuhan adalah dasar aku mencintaimu

Disaat kau bertanya
“masihkah kau mengingatku ?”
Bahkan setiap detik perjalanan waktuku, setiap inci Shalawatku, setiap kata dalam do’aku selalu kusebut namamu

Disaat kau bertanya
“rindukah dirimu terhadapku ?”
Sayang……
Rindu yang terkatakan mungkin masih dapat ku ekspresikan, tapi rindu padamu tak dapat lagi kusiratkan. Setiap nokhta-nokhta hidupku, setiap aliran darah di nadiku, aku merindukanmu, hingga terkadang rindu itu membekukan benakku,membekukan nadiku, membekukan hariku, membekukan hidupku hingga tak dapat lagi ku ekspresikan rindu itu.

Cinta
Rindu
Kenangan
Adalah bunga-bunga indah dalam hidup
karena Cinta itu memiliki banyak rasa 

Sabtu, 12 April 2014

Jikalau mereka,aku, dan cinta

Suatu ungkapan adalah ekspresi jiwa
Mewujudkan in-materi menjadi sebuah materi
Mamberikannya sebuah makna
Menyampaikan pesan yang disebut CINTA

jikalau mereka mengekspresikan cinta dengan ungkapan
Jikalau mereka begitu ekspresif memaknai cinta

Jikalau mereka sangat senang ketika memandang cintanya
Diriku mungkin akan menunduk dan memalingkan wajah
Jikalau mereka sangat bersemangat ketika bersama cintanya
Diriku mungkin akan lemas dan tak berdaya
Jikalau mereka terus mencari cara mengikuti arah cintanya
Diriku mungkin akan memalingkan badan dan menutup mata

Itu mereka...
Jikalau aku mengungkapkan cinta kepadamu layaknya mereka
Mungkin tidak akan pernah kau melirik cintaku
Jangan tanyakan mengapa...
Karena caraku mencintaimu berbeda dengan cara mereka mencintaimu

Sabtu, 29 Maret 2014

Cerita Sudut Bandara



Bandar udara internasional Adisutjipto, Yogyakarta. Tempat yang menjadi saksi untuk pertama kalinya semua terkatakan dan tempat yang menjadi saksi untuk pertama kalinya semua terkenang dengan begitu menyayat.
Petang hari itu, pesawat yang membawaku akhirnya mendarat di tempat ini, terpampang tulisan Bandara Internasional Adisutjipto, Yogyakarta. Tersengal, detak jantungku seakan berlari. Berat rasanya kuhirup udara jogja yang begitu menusuk, bukan karena polusi udara, tapi karena begitu dalamnya kenangan yang terjadi di tempat ini. 
November 2012
Ketika suasana bandara disesaki dengan kesibukan keberangkatan dan kedatangan subuh . disaat nyawa ini masih melayang-layang karena tidak sempat walau hanya memejamkan mata karena ketakutan ketinggalan pesawat. Dirimu yang juga sedang menahan kantuk yang mendera, dengan mata yang redup, ditengah keramaian bandara, suaramu yang berat terdengar memanggil namaku.
Sedikit melirik, dirimu menarikku menyingkir sedikit dari keramaian orang-orang yang kelihatannya begitu terburu-buru.
Akhirnya, kita berdiri beruda, disalah satu sudut bandara. Dirimu terlihat gugup, sedikit kikuk diriku menerka-nerka apa yang kira-kira akan kau katakan. Akhirnya, tanpa basa basi, meskipun sedikit terbata-bata kata itu keluar dari bibirmu yang sangat jarang menyunggingkan senyum :

“aku menyayangimu”

Kaget, salah tingkah, entah apa yang harus kulakukan saat itu, entah apa yang harus ku katakan. Sangat ingin, saat itu aku beteriak “aku juga menyayangimu”. Tapi, rasa takutku nyatanya begitu besar. Rasa trauma yang kualami nyatanya belum terhapuskan. Takut, sangat takut ketika kita bersama, maka diriku akan kembali kehilangan orang yang kusayangi. Saat itu, diriku hanya berpikir lebih baik diriku tak pernah sama sekali memilikimu agar diriku tak akan pernah kehilanganmu. Karena sungguh, membayangkan untuk kehilanganmu saja diriku tak akan pernah sanggup.
Hanya berselang beberapa detik. Setelah pernyataanmu terlontar, entah mengapa bibirku secara reflex mengeluakan pernyataan yang membuat ku kini hanya dapat mengenang bayanganmu yang berdiri di sudut badara ini.
“ku harap kau bersabar menungguku”

Entah apa alasanku saat itu menyuruhmu menunggu. Entah apa yang diriku pinta untuk kau tunggu, mungkin ke-egoisanku….
kini, februari 2013
ditempat ini aku kembali, diriku hanya dapat menatap kosong sudut bandara itu, membayangkan sosokmu berdiri di hadapanku, membayangkan wajahmu yang begitu serius dengan kantuk yang tertahankan mengungkapkan sayang kepadaku.
Kini, bahkan dirimu masih menungguku, menunggu ke-egoisanku, bahkan kau terlalu sabar untuk masih terus menunggu dan mengenangku, di saat diriku justru baru menyadari kalau untuk pertama kalinya diriku mengenangmu dan untuk pertama kalinya diriku menyadari bahwa diriku benar-benar menyayangimu.

Sabtu, 08 Maret 2014

Aku Jatuh Cinta Kepadamu Setiap Hari




“salah satu nikmat Tuhan adalah menciptakan makhluknya dengan berpasangan” 

Ber-PASANG-an. Memiliki imbuhan ber- dan di tambah dengan akhiran –an yang berkata dasar PASANG. Saling melengkapi, saling mengisi, saling mendalili dimana apabila salah satu pasang disebut maka otomatis akan mendalili pasangan yang lain *TerlaluFilosofis
Intinya ber-PASANG-an kah kita ? saling mendalili kah kita ? kuserahkan semuanya pada waktu, dan kujadikan komitmen kita sebagai ikhtiar.
Jujur saja hingga saat ini diriku tidak mengerti apa pebedaan dari kata cinta dan sayang, entah mengapa kata itu seakan menyatu dalam sosok dirimu tanpa pernah ku mencoba memisahkan dirimu dari keduanya. Seakan terlalu indah untuk memisahkan cinta dan sayang itu dengan sosok dirimu, yaa KAMU.
Saat kata sayang dan cinta terlontar dari bibirmu, saat ungkapan itu tergambarkan dengan raut wajahmu yang serius. Mungkin diriku masih begitu ragu, bukan tentang keseriusanmu terhadap cinta dan sayang yang kau tawarkan kepadaku karena aku sungguh mengetahui bahwa dirimu adalah orang yang paling memegang komitmen, tidak pernah berjanji hanya membuktikan lewat tindakan. Sungguh, pada saat itu diriku justru ragu dengan cinta dan sayang yang aku miliki untukmu. Suatu komitmen adalah suatu keseimbangan, ketika salah satu kutub memiliki berat yang melebihi kutub yang lain maka keseimbangan itu tidak akan pernah di peroleh.

Saat itu, disaat kau mengungkapkan cinta dan sayang, sungguh diriku takut, takut kalau saja cinta dan sayang yang kau berikan tak dapat kubalas berimbangn dengan cinta dan sayang yang kumiliki untuk mu. sungguh keputusan yang sangat sulit bagiku, di sisi lain diriku sangat takut untuk kehilangan sosok dirimu, di sisi lain lagi diriku sangat takut untuk membuatmu terluka untuk kesekian kalinya dengan cinta dan sayangmu yang begitu tulus. Kejamkah diriku, saat itu yaa mungkin sangat egois, tapi sungguh di saat itu pula aku mengakui diriku telah mengambil keputusan yang sangat tepat. MEMPERTAHANKAN DIRIMU TETAP DI HIDUPKU.

“Witing tresno jalaran soko kulino” pernah dengar pepatah jawa itu ? cinta datang karena terbiasa. Mungkin pepatah itu sedikit bisa mewakili keputusanku saat itu, tapi berusaha kuyakinkan diriku bahwa dirimu pasti mampu membuatkan jatuh cinta lebih dari ini, bahkan jatuh cinta melebihi cintamu kepadaku.
Beberapa hari terjalani, beberapa bulan terlewati. Penuh pengertian, saling berbagi, saling mengisi, saling memberi masukan, menepis segala dugaan orang-orang yang tidak mengerti kisah kita sama sekali. Dirimu membuktikan, bahwa diriku tidak pernah salah memilih mu.
Mungkin dulu diriku masih ragu tentang besarnya cinta dan sayang yang kumiliki untuk dirimu, tapi kini diriku bahkan ingin bertarung dengan dirimu, seberapa besar rasa cinta dan sayang yang kita miliki satu sama lain. 

Kau behasil,

Kau berhasil membuatku tersadar bahwa komitmen untuk mempertahankanmu saat itu adalah hal yang sangat tepat

Kau berhasil,

Kau berhasil membuatku terus saja mengingatmu bahkan telah menggilaimu 

Kau berhasil,

Kau berhasil membuatku seakan-akan menjadi perempuan paling beruntung di dunia

Kau berhasil,
 
Kau berhasil membuatku menjadi perempuan yang tidak perduli untuk berpura-pura menjadi orang lain di hadapanmu

Kau berhasil,

Kau berhasil membuatku rela menghabiskan seluruh waktuku bahkan untuk bersamamu

Kau berhasil, 

Kau berhasil membuatku merasa sangat tenang ketika tanganmu mendekap bahuku
 
Kau berhasil,

KAU BERHASIL MEMBUATKU JATUH CINTA KEPADAMU SETIAP HARI.

Kamis, 20 Februari 2014

CINTA ITU EGOIS.SAYANG ITU PENUH PENGERTIAN



Angin  senja semakin menampakkan senyum
Langit jingga mulai semakin elok memamerkan kecantikan
Menyambut suasana hati yang sedang gundah gulana
Saling berlawanan dengan hati yang sedang kelabu

Mungkin terlalu puitis, atau istilah anak-anak sekarang petikan bait di atas terlalu GALAU. Tapi, apa daya ? mengapa harus takut dikatakan GALAU kalau itulah tampakan suasana hati yang dapat terungkapkan. Mungkin juga justru dirimu yang akan menertawakan suasana hatiku dari petikan bait diatas. Tapi tenang saja, diriku tak akan marah kalau kau tertawakan, setidaknya itu menandakan kalau dirimu masih mengingat kalau diriku masih ADA di sini, terus mengingatmu dengan predikat GALAU. Paling tidak nama ku masih kau kenal dalam hidupmu, meskipun mungkin entah kapan, suatu saat nanti dapat saja kau lupakan atau bahkan mungkin sudah tak pernah merasa mengenal diriku lagi.
Cuaca mendung siang itu, ketika jalan protokol kota kita telusuri berdua. Bercerita segala hal, membahas berbagai hal, menertawakan semua hal. Entah mengapa waktu tak pernah terasa ketika bersamamu, terlalu menarik, bahkan ingin rasanya ku menarik jarum jam mundur agar tak pernah ada kata senja dan malam yang menandakan kalau waktu kita untuk bersama harus berakhir. Semuanya tampak istimewa bagiku, biarpun mungkin bagimu hanyalah hari yang biasa, tapi aku bahkan sama sekali tidak perduli. Mungkin inilah yang dikatakan bahwa cinta itu egois, tapi yang harus kau ingat sayang itu penuh pengertian.
Ya, CINTA ITU EGOIS, SAYANG ITU PENUH PENGERTIAN

se-egois diriku yang selalu menuntut hanya akulah yang kau cintai
 
Sepengertian diriku ketika dirimu tiba-tiba menghilang entah kemana, disaat diriku sangat membutuhkan seseorang yang dapat mengajariku kalau hidup ini benar-benar penuh perjuangan. Sepengertian diriku ketika dirimu tiba-tiba ingin bercerita meskipun diriku sangat lelah dengan aktifitas kampus yang hampir membunuh. Sepengertian diriku saat kabarmu tak kunjung datang karena kesibukanmu yang tak cukup 24 jam dalam sehari. 

se-egois dirimu yang hanya mengungkapkan cinta secara tersirat
 
Sepengertian dirimu saat aku tiba-tiba tak ingin diganggu dengan berbagai alasan yang bahkan dirikupun bingung. Sepengertian dirimu saat aku harus membatalkan janji-janji kita diakhir minggu meskipun diriku tahu kalau hanya waktu itu yang kamu punya. Sepengertian dirimu saat diriku terus saja menghindar dari pandanganmu. Sepengertian dirimu saat aku tiba-tiba menghilang tanpa memberimu keterangan. Sepengertian dirimu saat diriku selalu saja melanggar janji kita.
Hari itu, hari dimana rasanya rindu terlampiaskan dan bahkan telah tumpah membanjiri. Mungkin telah terlalu lama kita tak bercerita banyak, sampai-sampai terlalu sayang rasanya kalau hari itu kita habiskan dengan hanya membahas masa lalu. Tapi, hari itu hari dimana lembaran baru kembali terbuka, namun dengan waktu yang bersamaan diriku menjadi takut kalau sudah tak tersisa lagi lembaran lain untuk menuliskan kisah kita. Saat kulangkahkan kaki untuk mengakhiri hari itu, saat itu pula raguku mulai merasakan, masihkah kita dapat melalui hari dengan bersama. Seketika itu pula beribu do’a terpanjatkan.
Semoga cinta tidak pernah bosan untuk menunggu
Semoga sayang tidak penah bosan untuk mengerti
Semoga langit tidak pernah bosan mendengarkan do’a
Semoga waktu masih menyisakan lembaran-lembaran baru untuk menuliskan kisah KITA.